Di suatu hari yang gabut, sekitar bulan April. Aku iseng meminta temanku anak seminari untuk promot akun instagramku.
Dari sinilah semua berawal. Sebelumnya untuk yang belum tau, seminari adalah sekolah calon romo(pemimpin agama katolik). Jadi ya difokuskan untuk panggilan itu dan seharusnya tidak berminat dengan lawan jenis.
Oke. Tiba tiba notif masuk seorang minta konfirmasi untuk follow akunku. Aku bahkan masih ingat foto profilnya memakai baju putih dengan background hijau. Sebut saja ‘dia’.
Si dia ternyata mengenal temanku, terlihat dari akun yang aku dan dia sama sama follow. Singkat cerita, kuterima saja permintaan follownya. Karena memang temanku yang mengenalnya bialng bahwa dia anak baik.