Bertemu atau Tidak?

Dia tinggal di kota Ungaran dan tentu saja saudaraku juga.

Karena hari libur, aku putuskan untuk main dan menginap di rumah saudaraku itu. Saudaraku yang juga mengenal si dia. Dan tidak menyangka lagi, rumahnya dengan rumah saudaraku satu wilayah, tak jauh.

Awalnya aku tidak ada niatan bertemu dengannya. Memang saat libur itu, kami sudah sering chat, sering bercanda, bahkan curhat beberapa kali. Namun, saat aku berada di rumah saudaraku—yang juga dekat rumahnya, aku tak bersungguh-sungguh untuk bertemu dengannya. Jadi, kalau bertemu ya syukur, kalau tidak ketemu yasudah.

Di suatu sore, di hari sabtu, menjelang aku kembali ke kota asalku, ada suatu kejadian. Dimana saudaraku meninggalkanku ke gereja sendirian. Aku heran dengan tingkahnya, aku yang sedang mandi tau tau ditinggal begitu saja.

Aku ingin ke gereja juga, tapi karena orang serumah masih sibuk dengan kerjaan masing-masing karena kebetulan saat itu ada renovasi rumah, jadi aku dan saudaraku ke gereja berdua, tapi aku malah ditinggal.

Akhirnya aku whatsapp saja si dia, bisa tidak menemaniku ke gereja. Awalnya aku ragu minta bantuannya, dan itu sudah mepet menjelang mulai gerejanya. Ternyata dia mau, dan menang sudah siap juga ke gereja.

Kami pun bertemu. Jadi ini pertemuan pertama kalinya kami. Hanya karena sebuah kejadian ditinggal. Saat bertemu itu, aku merasa harus menjaga jarak dengannya, karena memang dia anak seminari. Aku dari awal sudah waswas duluan sebenarnya.

Jadi kami pun ke gereja bersama. Saat di gereja, aku sungguh kesal melihat saudaraku yang meninggalkanku, ternyata dia meninggalkanku karena ingin ke gereja bersama pacarnya. Dari situ si dia malah mengejekku karena aku kalah, tidak punya pacar.

Kami pun memulai ibadah di gereja. Awalnya biasa saja. Tapi si dia malah terkesan berisik dan mengejekku terus. Lalu tiba-tiba di tengah bagian lagu kemuliaan—salah satu lagu yang dinyanyikan saat di gereja, dia malah bertanya bagaimana tipeku. Aku hanya diam, kaget dengan pertanyaannya dan tidak mengerti tujuannya bertanya itu. Akhirnya dia kuminta untuk diam saja.

Aku dan dia itu sebenarnya sudah aneh dari awal.

Mulai dari ketidaksengajaan keluarga kami, sampai bagaimana cara kami pertama bertemu. Dan anehnya lagi, memang aku merasa sangat akrab dengan dia ini. Tidak biasanya aku mau bercerita ke orang, terutama lawan jenis sebenarnya.

Anehnya lagi, saat doa bapa kami—salah satu doa dalam gereja, dia mengulurkan tangannya padaku, aku reflek saja menerimanya, dan kami gandengan seperti pasangan saja. Aku hanya berpikir, kenapa kuterima. Saat itu pula para perempuan seperti seumuran dengan kami, yang duduk di belakangku langsung ribut karena kami gandengan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai